Saturday, September 24, 2016

Digital underline painting karakter komik Mada

Berikut ini adalah proses pewarnaan digital karakter komik Mada bernama Nuraini.

Nama asli doi adalah Nuraini Rangkayo Basa seorang remaja berusia 15 tahun dari etnis Minangkabau, aliasnya Onde mande, disebut begitu karena kalo kaget kata itu yang keluar dari mulutnya.
Tapi jangan anggap remeh, kemampuan beladiri silat Minangnya patut diacungi jempol pukulan Harimaunya sangat mematikan. Nuraini bisa juga dipanggil Nur atau Aini bergabung dengan tim nya Mada untuk bersama-sama memberantas penjajahan dari Entitas jahat yang selalu mengincar sumber kekayaan di Nusantara.











Pewarnaan ini dikerjakan oleh kak Han , jika ada pertanyaan bisa langsung di kolom komen yaah.

Wednesday, February 10, 2016

Commission Open 2016

Hello Everyone, we are now Open Commission for personal or commercial use

Please visit  Papillon for more information

Saturday, October 10, 2015

Line Webtoon: Serunya Baca Komik Via Smartphone

Halooo ada yang suka baca komik? 1,2,3,4 waaah ternyata ada 10.576.879 pembaca blog Papillon Studio yang suka baca komik. Prok-prok-prok, dibantu yaaa #apaanseh?

Papilonia sekarang lagi ngetren ya komikus upload komiknya di internet baik itu blog, facebook, instagram, maupun web tertentu biar bsa dibaca gratis seluruh masyarakat luas. Udah gambar susah-susah mengijinkan orang lain baca gratis biar terhibur, duh mulia sekali mereka ini ya... Makanya kalau kamu suka dengan karyanya, menikmatinya, jangan pelit-pelit dong ngasih support berupa like, komen, atau share biar karya mereka makin mendunia :)

Biasanya nih kamu suka baca komik via apa? PC, laptop, atau smartphone. Dulu, saya paling ngga suka baca komik via hape, susyee. Dengan layar sekecil itu berusaha baca sekotak komik yang terbagi jadi beberapa panel.

Tapi itu dulu sebelum saya mengenal line webtoon yang mebuat saya merasakan serunya baca komik via smartphone.

Webtoon merupakan aplikasi yang diluncurkan line sudah lebih dari setahun lalu. Yang beda dari membaca komik di webtoon ini adalah, kalau biasanya kita baca komik, dalam satu layar langsung beberapa panel dalam sehalaman, di webtoon kita bisa membaca sepanel demi sepanel, dan cara bacanya scrolling kebawah. Asyik deh pokoknya.

Komik Odd Bugs versi Webtoon

Ukuran dan segala macamnya sudah disesuaikan dengan ukuran smartphone, jadi baca komiknya ngga perlu pake kaca pembesar.

Ada cukup banyak komik yang bisa dinikmati setiap harinya, mulai dari komedi, drama, fantasi, dan horor.

Saat ini line webtoon sedang mengadakan challenge. Komik yang diupload di webtoons.com dalam rentang waktu tanggal 15 September-15 Oktober, yang mengikuti segala syarat dan ketentuan boleh mengikuti challenge ini.

Papillon Studio pun turut meramaikan challenge ini dengan mengikutsertakan komik Odd Bugs dan Mak Irits.

Komik Mak Irits versi Webtoon

Instal aja aplikasi webtoons di hape kamu biar baca komiknya lebih seru. Ada reward juga loh dari Line Webtoon bagi pembaca yang setia dan aktif mengumpulkan poin lewat rating, likes, dan share komik, diantaranya samsung galaxy note untuk satu orang tiap minggunya.

Dukung komik Oddbugs dan Mak Irits yaa dengan memberikan like, meninggalkan komentar, dan share di socmed kamu. Biar ngga ketinggalan update-annya, kamu bisa pencet tombol favorit di bagian bawah komik. Jadi kalo ada yang terbaru dari komik Odd bugs atau Mak Irits langsung ada notifikasi ke smartphone kamu yang udah terhubung dengan line. Asyik kan :)



ditulis oleh Rahmi Aziza, momblogger, penulis komik Mak Irits, penulis freelance Papillon Studio

Monday, September 28, 2015

5 Software Menggambar Digital yang Rekomended

Kok bisa menggambar seperti ini pakai alat apa sih? adalah pertanyaan yang sering terlontar dari khalayak ramai yang berkunjung ke studio Papillon atau ke booth kami pada saat pameran.

Dalam hal menggambar, secara umum dibedakan menjadi dua, gambar manual dan digital yang punya kelebihan dan manfaat masing-masing.

Nah kali ini kita bahas tentang menggambar digital ya. Apa saja sih software yang biasa digunakan untuk menggambar digital?

1. Adobe Photoshop
Program buatan Adobe yang satu ini cukup fenomenal, hampir setiap Ilustrator, komikus, animator dan fotografer mengenalnya, software ini sangatlah lengkap untuk menunjang kebutuhan  para user yang telah disebut diatas. Jumlah layer yang hampir tak terbatas dan banyaknya fasilitas filter, tools serta blending mode yang bervariasi sangat membantu kebutuhan user dalam mengolah gambar atau foto, bahkan ada fasilitas animasi juga yang sudah mulai diperkenalkan sejak Photoshop 5, saat itu masih belum terintegrasi dengan software Photoshopnya tapi dapat diakses dengan meng klik tombol Image ready yang terletak diatas tools. 


Tampilan Photoshop saat kami mengerjakan proyek komik Max Steel.
 komik ini diterbitkan  oleh Viz Media, San Fransisco. Sumber : Papillon Studio


2. Corel Painter
Keistimewaan Corel Painter jelas terasa pada saat Ilustrator mengerjakan digital painting, program ini dapat membuat Ilusrator serasa menggambar menggunakan alat tradisional dengan media digital, hasil yang dicapai bila seseorang telah menguasai tehnik melukis dengan kanvas akan sangat mendekati lukisan yang dikerjakan dengan cara tradisional, tersedia berbagai macam pilihan kuas dan alat gambar traditional dengan feel hampir mendekati alat aslinya dalam software ini.


Corel Painter X3, sumber macworld.com 



3. Art Rage
Sesuai dengan semboyannya "Natural Painting Software" Art Rage dengan tampilan workspace yang stylish akan sangat mempermudah penggunanya dalam melukis digital. Dirancang untuk digunakan dengan Pen tablet tapi juga masih dapat digunakan dengan Mouse biasa.  Fasilitas alat gambarnya antara lain Cat minyak, Cat semprot, Pensil warna, Cat acrylic dll.  


Tampilan workspace Art Rage, sumber wikipedia





4. Manga Studio
Software yang satu ini juga sudah cukup tersohor terutama diantara para Komikus atau Mangaka yang menggambar komiknya dengan media digital menggunakan pen tablet. Manga Studio menyediakan one stop service dalam proses pembuatan komik dari A-Z, mulai dari storyboard, penintaan, pewarnaan baik menggunakan fasilitas halftone atau full color hingga pembuatan balon kata. Goresan g-pen digitalnya terasa sangat real dan hasilnya mendekati goresan pena tradisional. Efek halftonenya juga terlihat seperti dikerjakan secara tradisional. 


Tampilan lembar kerja Manga Studio, sumber: pcworld.com



5.Paint Tool SAI
Yang satu ini juga nggak kalah populer dengan yang penulis sebutkan diatas, software kreasi Systemax Jepang ini sangatlah ringan, bahkan penulis punya programmnya yang ukurannya tidak sampai 200MB! dengan workspace yang bersahabat, desain tampilan kerjanya boleh dibilang sangat efektif sederhana tapi powerfull dalam manfaatnya. salah satu kelebihannya adalah dalam mencampur warna (blending) untuk para pemula juga sangat direkomendasikan karena sangat mudah dalam memahami fungsi-fungsi toolsnya.

Tampilan workspace SAI, sumber : papillonstudio

Nah sekarang silahkan tentukan pilihan yang paling cocok dan sesuai dengan kebutuhan kerja anda, software diatas sifatnya hanya membuat lebih praktis, tidak perlu melakukan scan gambar atau tidak usah takut gambarnya ketumpahan cat karena selalu ada fasilitas undo ketika kita membuat kesalahan dalam bekerja dengan software-software ini, kemampuan dasar menggambar yang bagus dan benar tetap dibutuhkan meskipun sudah menggunakan software komputer.

penulis : Papillon Studio

Friday, August 28, 2015

Gen 3 Komikus Indonesia (bagian 2)

Ini adalah lanjutan dari artikel sebelumnya.

Dibagian ini kita memang harus lebih serius dan hati-hati, karena ini menyangkut benang merah yang akan menghubungkan generasi-generasi awal komik Indonesia dengan generasi sekarang.
Jadi bisa dikatakan ini bukan hal mudah, kenapa?
Karena eh karena terbatasnya data, missing link, serta beda interpretasi antar para pemerhati dan peneliti komik Indonesia dll.

Tapi ya sudahlah, kita ikuti saja jalur yang ada sambil mohon maa'af kalau ada yang kurang lengkap dan sedikit kabur.

Lukisan di dalam gua.   Sumber : Internet


Mula-mula kita mundur agak jauh ke masa pra sejarah sambil  menelusuri dulu ceruk-ceruk gua yang di dalamnya ada lukisan-lukisan menggambarkan binatang, perburuan, dan kehidupan sederhana masyarakat purba di Indonesia pada masa lalu, seperti di gua Leang-leang (Sulawesi Selatan).
Itu bisa dikatakan juga komik, karena seperti yang dikatakan Scott McCloud (1993) “komik adalah gambar-gambar dan lambang-lambang lain yang terjukstaposisi (saling berdampingan) dalam urutan tertentu, bertujuan untuk memberikan informasi dan atau mencapai tanggapan estetis dari pembaca.”. 
Jadi dari hal itu bisa dikatakan kalau nenek moyang kita ternyata sudah mengenal komik dalam artian yang dasar.
Begitu juga dengan relief-di Candi2, seperti candi Borobudur, Prambanan, dll;  yang dengan gamblang menggambarkan adegan-adegan terjuktaposisi, berurutan, serta informatif.

Relief Candi Borobudur. Sumber : Internet
Maka bisa dikatakan, mbah-mbah kita dulu itu juga sudah ngomik.

Bahkan kalau kita berwisata ke Borobudur sambil memelototi relief-reliefnya yang extraordinaire itu sambil terbengong-bengong, sebenarnya kita sedang menyaksikan 'komik gigantik', itu kata teman saya Mas Handaka Ehipassiko :)
Juga kalau kita melihat wayang, walkhusus wayang Beber, itu juga bisa dianggap komik juga loh.
Adegannya malah lebih padat dan ruwet.
  
Langsung loncat ke tahun 1930-an saja, karena itulah awal 'komik modern Indonesia' yang kita kenal saat ini. 
Dalam era penjajahan itu, ada harian berbahasa Melayu-Cina yaitu Sin Po, yang didalamnya ada cerita bergambar 'Put On' karya engkoh Kho Wan Gie (Sopoiku) yang sangat populer.


Komik Put On karya Kho Wan Gie.  Sumber : Internet

Bisa dikatakan, itulah tonggak  komik modern kita, dan Put On umurnya cukup panjang juga sampai th 1960-an, saat harian Sin Po di breidel alias dilarang terbit.
Setelah Put On, ada lagi 'Mencari Putri Hijau', karya Nasroen AS di harian Ratoe Timoer (th. 1939).

Saat Jepang menjajah dan menjarah kita, komik kita juga masih ada yg tetep muncul; seperti 'Roro Mendut' karya B. Margono di harian Sinar Matahari, Yogyakarta (th. 1942).
Setelah kemerdekaan, ada komik Pangeran Diponegoro dan Joko Tingkir karya Abdul Salam yg muncul di harian Kedaulatan Rakyat (th. 1948), dll.

Mungkin bisa dianggap itulah Generasi pertama komik dan komikus 'modern' Indonesia, walaupun masih 'debatable'.

Setelah itu mulailah muncul pengaruh komik2 Amerika di th.1940-an, saat komik seperti 'Tarzan', 'Phantom' ,'Rip Kirby" ' dll  beredar di Indonesia.

Dengan semangat nasionalisme, maka para komikus kita nggak mau kalah; mereka menciptakan juga komik2 yg berbau superhero.
Seperti alm. RA. Kosasih dengan 'Sri Asih' (th. 1952), Pak Tino Sidin dengan 'Kapten Jani' dan 'Panglima Najan' (th. 1957), Mala Pahlawan Rimba, dan Sie Djien Koei karya Siauw Tik Kwie (Otto Suastika) yang melegenda, dll.

Komik Sie Djin Koei. Sumber : Internet
Khusus untuk Sie Djien Koei, bisa dikatakan itulah pelopor genre komik gedebag gedebug alias komik silat yg terus berjaya sampai awal 1980-an.

Dimasa Bung Karno, ketika 'Politik adalah panglima' dan semangat cinta tanah air menggelora, mulailah muncul anggapan miring ttg komik kita yg dianggap tidak mendidik dan hanya menjadi tiruan/imitasi dari budaya Barat.
Untuk menjawab tudingan itu, beberapa penerbit; seperti Keng Po dan Melody; meluncurkan komik2 yg bercitarasa lokal seperti 'Lahirnya Gatutkaca', 'Mahabarata', 'Lutung Kasarung', 'Lahirnya Majapahit', dsb. 
Setelah itu sempat muncul 'Periode Medan', dengan salah satu jagoannya yaitu Taguan Hardjo dgn karyanya yg fenomenal ' Hikayat Musang Berjanggut'.

Komik Hikayat Musang Berjanggut karya Taguan Harjo. Sumber : Internet
Komik Si Buta dari Gua Hantu
Sumber. Internet
Di masa pemerintahan Orde Baru-nya Pak Harto, saat sensor dan pengawasan pemerintah sangat ketat, justru saat itulah, ironisnya, perkembangan komik nasional bisa dibilang mengalami era keemasan.
Komik roman/cinta, komik horor, dan terutama komik silat tampil merajalela.

Komikus-komikus legendaris seperti :
Oom Ganes TH dengan serial 'Si Buta dari Gua Hantu'nya. Pakde Jan Mintaraga dengan 'Tanduk Menjangan Merah'nya, Hans Jaladara menggebrak dgn 'Panji Tengkorak'nya, "Gina' nya Oom Gerdi WK; dll, poloknya buanyak banget dah, dengan kokoh bercokol dan laris manis.

Nggak ketinggalan, muncul superhero-superhero yg 'diilhami' dari komik-komik Amrik, seperti 'Godam'nya Wid NS, 'Gundala'nya Oom Hasmi, 'Nusantara'nya Mater, 'Kawa Hijau'nya Oom Cancer dll; ikut meramaikan jagat perkomikan kita.

Godam karya Wid NS
Tetapi masa2 bulan madu nan indah  yg dinikmati oleh generasi ke-2 komikus Indonesia itu, tampaknya harus berakhir di era th. 1980-an. 
Saat invasi Jepang, kali ini invasi budayanya dalam bentuk manga, kembali menyerbu Indonesia dan menghabisi komik lokal.

Manga / Komik Jepang. Sumber : Internet
Tapi sebetulnya bukan hanya kedatangan manga saja yg jadi penyebabnya, penyebab lainnya  adalah adanya Operasi Tertib Remaja (opsTerMa) th. 1970, yang mengakibatkan 'Para penerbit pun akhirnya tidak mau mengambil resiko rugi dengan menerbitkan komik Indonesia, yang (menurut mereka) belum tentu berkualitas. 
Sikap selektif (yang terkadang agak berlebihan) ini mengakibatkan sulitnya para komikus lokal untuk mencari mitra bisnis demi eksistensi komik Indonesia. Jika diterima pun, pihak komikus hanya menerima harga yang relatif rendah bila dibandingkan dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Distribusinya pun amat terbatas. Walhasil, para komikus sulit mematok harga rendah bagi komik produksi mereka'. (Imansyah Lubis,Komik Fotokopian Indonesia 1998-2001, th.2009). 

Komik Indonesia seakan mati suri. Tapi nggak betul-betul koit loh :)

Ada muncul komik seperti 'Caroq' (th. 1992, Wikipedia) karya Ahmad Thoriq yg Amrik banget, yang sempat heboh tapi tidak cukup untuk membangunkan komik kita.

Komik Caroq karya Thoriq dan Pe'ong terbitan QN
Nah, saat itulah di tahun 1990-an pula muncul trend komik underground/komik indie dalam bentuk fotokopian (Xeroxed) dikalangan generasi muda, terutama di kampus-kampus.

Merekalah yang bisa dikatakan sebagai generasi ke-3 komik dan komikus Indonesia.
Mungkin bung Hikmat Darmawan dan Mas Suryo Rimba bisa lebih menjelaskannya, he-he-he.. 

Mereka secara individual maupun komunitas mulai melakukan 'perlawanan' terhadap hegemoni 'komik mainstream' yang diterbitkan oleh penerbit-penerbit mapan yg memonopoli perkomikan nasional.
Maka muncullah komik-komik 'edan' yang tidak sesuai dengan selera pasar, misalnya 'KompakDisk' yang agak-agak gimana gitu, 'Old Skull'nya Athonk,komik-komik 'Street Soccer'nya Bengkel Qomic, dll yang bejibun banyaknya!

Kalo ingin lebih lengkap mengenai komik-komik indie ini, bisa langsung tanya ke Akademi Samali dengan sodara Beng Rahadian yang baru saja menggelar acara 'Retrospektif Komik Indonesia 1995-2005' di Bentara Budaya, Jakarta, 8 Mei hingga 16 Mei 2015 kemarin.

Okee, itulah benang merahnya yang sebisa mungkin Penulis telusuri, yang diambil dari berbagai sumber yang dianggap kompeten.

Dari situ sudah kelihatan adanya rangkaian dalam sejarah perkembangan komik Indonesia yang, kalo dibagi dalam periodisasi generasi, terdapat 3 generasi komikus Indonesia dengan karya-karyanya yg telah memperkaya komik nasional.

Memang itu masih bisa diperdebatkan, tapi paling tidak pernyataan dari DR. Claire saat PKAN IV di Yogyakarta th.2003 tentang 'generasi emas'itu memang ada benarnya, dan itu ada di generasi komikus saat ini, generasi ke-3. 

Generasi komik fotokopian itu kini sebagian sudah ada yang menjadi pelaku industri komik yang mapan dan sugih/kaya ,walaupun sebagian besarnya lagi masih berjuang dengan idealismenya yang sering bikin Penulis geleng-geleng kepala karena salut dan kagum :)

Maju terus komik Indonesia, Merdekaaa!!!


Sumber : 
Scott McCloud : Understanding Comics, (1993), Marcel Boneff: Komik Indonesia, KPG (1998), Imansyah Lubis: Komik Fotokopian Indonesia 1998-2001, Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (2009), Wikipedia.

Penulis :
Fajar Buana






       
   

                        

Monday, July 06, 2015

Beli Wacom Tablet di Semarang? ke Papillon Wacom Store aja

Update Informasi, untuk memesan Wacom dapat menghubungi ke nomer ini ya :
HP 085641094316/085647961083
PIN BB 5B1743F3

SIAP - SIAP MUNCUL PRODUK BARU YA TEMANS!! Berikut ini Penampakannya :


Review Produk Intuos terbaru oleh user Teoh Yie Chie, simak ya guys asyik loh :



Ini nih benda wajibnya para komikus. Alat ini memudahkan kamu untuk menggambar dan mewarnai secara digital.


sumber:amazing-resource.com

Keuntungan menggambar&mewarnai secara digital:
  • Hemat kertas
  • Praktis, ngga perlu nyecan kalau mau disave di komputer kemudian akan dikirim ke klien lewat email
  • Kalau ada kesalahan gambar atau warna mudah menghapusnya. Bayangin kalau kita menggambar manual di kertas kemudian salah gambar, salahnya sering pula >,<

READY STOCK!

1. Tipe Intuos Draw CTL 490/B0 & W0 :
Harga Rp.1.350.000 ,-

































Update Informasi, untuk memesan Wacom dapat menghubungi ke nomer ini ya :
HP 085641094316/085647961083
PIN BB 5B1743F3


2. Tipe Intuos Photo
CTH 490/K2

Harga 1.870.000,-

































Tersedia berbagai macam tipe lain, Intuos Pro dan Cintiq (indent)
Informasi stok barang dan harga hubungi:
HP 085641094316/085647961083
PIN BB 5B1743F3
Untuk yang berdomisili di Semarang bisa Cash On Delivery (COD) khusus wilayah Semarang kota saja.



Pembelian juga bisa datang langsung ke :

Papillon Studio
Jalan Klipang Golf view
Ruko no.B3, Klipang
Kodya Semarang
Jawa Tengah - Indonesia