Friday, April 05, 2019

Bagaimana Mengembangkan IP Jadi Pundi-Pundi Rupiah?


Ilustrator Papillon Studio Semarang

Awal April lalu, saya bicara di hadapan beberapa mahasiswa UniverstasDian Nuswantoro (Udinus) Semarang dalam sebuah diskusi ringan mengenai pengembangan sebuah intangible product (IP) untuk bisnis, di Rumah Kreatif BUMNSemarang.


Sebagai permulaan, saya tanya ke beberapa mahasiswa apa itu IP. Ternyata mereka banyak yang belum mengetahui apa itu IP. Mereka justru tanya balik ke saya. Lalu saya jelaskan dengan sebuah contoh IP milik PapillonStudio, yakni komik Mada, Mak Irits dan Sing Bahu Rekso. Baru mereka ngeh soal istilah IP.

Jamak orang mengartikan bahwa IP itu adalah sebuah produk yang diciptakan oleh manusia namun produk tersebut tidak bisa diraba karena wujudnya digital. Tapi IP ini dapat memberikan nilai tambah pada sebuah produk atau konten tertentu sehingga manusia dapat memanfaatkannya untuk kepentingan tertentu. Nah, soal kepentingan inilah yang mau saya bahas dalam diskusi tersebut.


Pengembangan IP, kalau menurut saya, ke depan harus lebih memberikan peningkatan market opportunity dalam sebuah produk bisnis. Saya melihat IP ini akan memiliki andil dalam menambah market. Terlebih lagi di Indonesia, yang sepengetahuan saya, belum banyak dunia bisnis yang memanfaatkan IP sebagai nilai tambah (add value) pada produk mereka. Loh berarti ini pasar yang sangat menggiurkan dong untuk digarap? Yup, sangat-sangat berpotensi besar untuk digarap, gaes!

Misalnya nih, sebuah IP bisa masuk ke industri makanan, kuliner, pakaian, mainan, games aplikasi, boardgame, dan manufaktur lain. Nah IP ini bisa menjadi nilai tambah pada produk-produk atau komoditas tersebut.

Misal produknya berupa pendidikan dan kebudayaan. Maka IP bisa dikreasi dalam berbagai bentuk seperti komik atau animasi. Nilai-nilai fikih islam, seperti bagaimana cara berwudu yang benar, itu bisa dibikin animasi. Atau doa-doa yang mudah dihafal anak-anak, kayak doa mau tidur, doa mau makan, doa masuk kamar mandi, itu juga bisa dibuatkan dengan animasi. Kan asyik banget tuh, anak-anak suka animasi tapi dalam animasi tersebut kita berikan nilai-nilai yang terkandung dalam fikih islam. Khusus untuk IP ini target marketnya memang anak-anak.


Sebaliknya, ada juga IP yang justru bisa dikembangkan dan merambah ke bisnis. IP kartun Tayo, misalnya. Awalnya Tayo ini kan sebuah karakter yang dikreasi dalam bentuk kartun, lalu divalidasi melalui televisi nasional. Setelah IP itu tayang, maka banyak sekali produk turunannya, seperti mainan, kaos, kuliner dan sebagainya sehingga produk itu bisa dipasarkan secara luas. Sama halnya dengan Doraemon, Mickey Mouse, Donald Duck dan sebagainya.

Sementara yang terbaru adalah IP yang dikembangkan untuk menunjang pariwisata di Indonesia. Lalu bagaimana bentuknya sebuah IP bisa membantu dunia pariwisata di Indonesia? Bayak banget! Kalau untuk pariwisata, ya kita bisa membuat story telling mengenai tempat pariwisata, misalnya menggali nilai sejarah dan nilai budayanya.

Salah satu destinasi wisata di Semarang, Sam Po Kong, kalau story telling-nya hanya diceritakan dalam bentuk buku, maka akan sangat membosakan bagi anak-anak, padahal mereka adalah pasar terbesar untuk industri pariwisata dan pendidikan. Lalu apa yang bisa menarik anak-anak agar ketika berkunjung ke Sam Po Kong mendapatkan pegalaman baru? Salah satunya yakni menawarkan story telling dalam bentuk animasi atau komik. Jadi animasi dan komiknya saja yang bercerita. Tentu ini akan menjadi pengalaman baru bagi mereka dan ketika berkunjung ke Sam Po Kong tidak sekadar berswa foto lalu diunggah ke media sosial.

Di negara lain udah ada yang berhasil mempromosikan pariwisata dengan cara seperti itu loh. Contohnya adalah British Museum di London, Inggris. Mereka telah menambah fasilitas berupa virtual reality (VR) bagi para pengunjung remaja dan dewasa. Para pengunjung diajak menjelajah menggunakan VR dan mereka dapat berinteraksi dengan karakter 3D yang telah dipindai pada perangkat VR tersebut. Jadi ketika pengunjung kelelahan mengelilingi museum atau lokasi wisata, mereka bisa singgah di sebuah ruangan dengan VR itu, dan mereka bisa bebas menjelajahi ruang-ruang yang cukup banyak dan besar tanpa harus mereka ke sana. Dan ternyata cara menjelajah museum dengan VR itu cukup berhasil mendongkrak kunjungan.


Selain VR, ada juga Museum Seni Metropolitan di Amerika Serikat yang menggunakan teknologi augmented reality (AR). Teknologi AR ini justru memungkinkan pengunjung bersentuhan langsung dengan gambar-gambar yang muncul dari sebuah kamera. Pengalaman yang seperti itulah yang akan memberikan feel yang berbeda kepada setiap pengunjung lokasi wisata.

Di akhir diskusi, satu persatu para mahasiswa yang terlibat dalam diskusi saya tanyai, IP apa yang akan mereka rencanakan untuk mereka buat? Ternyata mereka masih pada bingung akan membuat apa. Tapi saya yakin mereka kelak akan memiliki IP yang bukan sekadar mereka nikmati sendiri, tapi juga memberikan manfaat kepada banyak orang, meskipun bukan dalam waktu dekat ini. Semoga.