Tuesday, January 14, 2020

Awalnya Malu-malu Nyobain, Tapi Lama-lama Malah Keroyokan

Belum lama ini, Papillon Studio Semarang turut memeriahkan acara ulang tahun SMK Nusaputera 1 Semarang. Papillon Studio diberi kesempatan untuk membuka stand pameran pada acara tersebut. Kru studio pun memboyong satu unit pen tablet Wacom Cintiq Venus 16" dan satu laptop ke sekolah. Dalam acara bergengsi yang diadakan setiap tahun itu, Papillon akan mendemokan bagaimana cara menggunakan alat gambar digital itu.



Awalnya banyak siswa yang sekadar melihat Burhan Arif, salah satu kru Papillon Studio, saat membuat sebuah ilustrasi background. Beberapa menit berlalu, para siswa belum ada yang minat mencoba membuat ilustrasi serupa di pen tablet. "Nggak bisa menggambar, kak." Begitulah alasan yang sering terlontar dari para siswa ketika kami tawari untuk menggambar apa pun dengan pen tablet.


Suasana masih sama seperti semula. Banyak siswa yang hanya berseliweran menyaksikan Burhan menggambar dengan pena digital. Tak lama kemudian, dua anak mendekati stand Papillon Studio dan ingin mencoba menggambar sebuah rumah. Anak-anak tersebut tampak masih kaku saat memegang stylus. Mereka rupanya belum terlalu familiar dengan pen tablet.

Melihat ada salah satu temannya menggambar menggunakan pen tablet langsung ke layar LCD, segerombolan siswa putra mendekat. Melihat rekannya susah payah menggambar menggunakan pen tablet, mereka tidak menyemangatinya tapi justru mengejek. Ejekan khas anak-anak sekolah menengah.


Sebenarnya tak penting bagi mereka hasil gambarnya bagus atau tidak. Mereka hanya ingin mencoba corat-coret di pentablet, lalu menertawakan hasilnya, itu sepertinya sudah membuat mereka bahagia. "Gambarmu kok ora mirip?" kata salah seorang murid mengomentari teman di hadapannya yang tengah sibuk menggambar salah satu karakter kartun anime One Piece dengan pen tablet LCD.


Satu per satu mereka mencoba "mainan" baru di meja stand Papillon Studio secara bergantian. Ada yang ingin menggambar wajah namun diawali dengan menggambar mata. Ada pula yang membuat ilustrasi sebuah logo fashion yang lekat dengan keseharian anak-anak muda itu. Yang pasti siang itu tak ada semburat kecewa mewarnai wajah-wajah para siswa. Yang ada hanyalah canda tawa.

Sejumlah guru dan para alumni SMK Nusaputera 1 Semarang juga antusias menyaksikan para siswa yang sedang sibuk membuat ilustrasi digital pada pen tablet. Mayoritas dari mereka tidak takjub pada hasil gambar para siswa, tapi justru menanyakan harga pen tabletnya. 


Ketika diberitahu ada beberapa pen tablet yang harganya di bawah Rp 1 juta, mereka kaget. "Loh ada tho pen tablet yang harganya Rp 650.000 per unit? Saya kira pen tablet itu harganya mahal," kata salah satu guru saat berbincang dengan salah satu kru Papillon Studio Semarang.


Tak terasa, jam sudah menunjukkan pukul 12.00 WIB. Beberapa peserta lomba dan para tamu undangan sudah pada pulang. Kami pun berkemas dan harus kembali ke studio. Kami pulang dengan membawa harapan agar kelak suatu saat Papillon Studio Semarang dapat kembali ke SMK Nusaputera lagi dan dapat berkontribusi lebih dalam dunia pendidikan.

No comments:

Post a Comment