Sunday, January 19, 2020

Menggapai Mimpi di Kelas Animasi

Menjadi seorang animator tidak cukup hanya bermodal laptop dan pen tablet. Tapi harus didukung dengan skill yang perlu diasah setiap hari yang diramu dengan kemauan keras.



Rabu, 15 Januari 2020 lalu, Papillon Studio Semarang mendapatkan kepercayaan untuk mengisi materi tentang basic membuat komik di kelas Animasi SMK Muhammadiyah 1 Semarang. Di kelas itu ada 13 siswa. Ada puluhan komputer di meja. 

CEO Papillon Studio Semarang, Mas Burhan Arif, mulai memberikan materi tentang premis, logline dan establish. Para siswa memang belum pernah mendapatkan materi tentang perkomikan. Karena itu nggak heran bila banyak pertanyaan tentang komik.


Pagi itu, para siswa sepakat untuk membuat komik strip 4-7 panel dengan mengangkat tema tentang "Liburan". Setelah Mas Han menerangkan tentang paneling dan mengembangkan sebuah ide cerita, para siswa pun mulai mengerjakan tugas tersebut. 

Yah, namanya juga anak sekolah, ada saja tingkah mereka ketika mengerjakan tugas bikin komik. Ada yang main hape, bercanda dengan temannya dan bikin coretan nggak jelas. Tapi banyak juga dari mereka yang serius langsung mengerjakan tugas. Namun ya itu tadi, karena dikerjakan dengan guyonan, maka selesainya pun lama. 


Tapi ya sudah, gapapa, yang penting mereka betah dulu di hadapan komputer sambil jarinya menari-nari memegang stylus di papan pen tablet. Beberapa kali ada juga siswa yang bertanya ke Mas Han tentang komik yang mereka bikin. Itu menunjukkan bahwa mereka sangat antusias dengan kelas komik kali ini.


Dan sepertinya pen tablet adalah barang baru buat beberapa siswa. Ada yang memang sudah terbiasa dengan pen tablet, ada juga yang masih coba-coba alias newbie dalam pembuatan komik digital.

Beberapa menit berlalu, sejumlah siswa telah menyelesaikan tugasnya. Namun setelah dikoreksi oleh Mas Han, ternyata ada beberapa bagian panel yang harus disempurnakan. Khususnya tentang setting lokasi.

Selain setting lokasi, ada juga yang masih bermasalah dalam ekspresi karakter. Misalnya saat si karakter marah, ekspresi marahnya kurang pas. "Kalau orang teriak itu kan mulutnya harus terbuka. Matanya juga harus menyesuaikan dengan emosi si karakter," kata Mas Han di hadapan para siswa.


Ide bertema liburan itu ternyata dapat diterjemahkan para siswa dengan baik. Ada yang bikin cerita tentang mengisi liburan dengan pergi ke gunung, memasak di dapur bersama ibu, dan ada juga komik yang bercerita tentang mengisi liburan dengan mager alias males gerak di rumah. Unik dan tak terduga.


Sambil didampingi oleh tiga guru pengampu kelas jurusan animasi, para siswa siang itu mengaku mendapatkan materi yang bermanfaat dan belum pernah mereka dapatkan sebelumnya. Jarum jam hari itu telah menunjukkan pukul 15.00 WIB. Saatnya para siswa berkemas untuk pulang. Tapi ternyata sore itu mereka masih belum mau beranjak dari tempat duduknya. Mereka masih ingin melanjutkan tugas membuat komik yang belum mereka selesaikan.

No comments:

Post a Comment